Featured Post Today
print this page
Latest Post

Cerita Sewindu Turnamen Silat Austria Terbuka

 Bola.com, Wina - Turnamen Pencak Silat Austria Terbuka yang digelar pada 24 Juni di kota Wina, Austria, memasuki usia kedelapan tahun. Federasi Pencak Silat Austria (PSVOe) berharap bisa terus rutin menggelar turnamen tersebut hingga tahun-tahun mendatang. 

Presiden PSVOe, Stefan Taibl, mengatakan perkembangan silat di Austria tidak berjalan seperti negara-negara Uni Eropa yang memiliki ikatan emosional cukup besar dengan Indonesia. Negara seperti Belanda, Belgia, Prancis, dan Jerman, diakui Stefan, mengalami kemajuan yang jauh lebih signifikan.
 
‘‘Kejuaraan ini sudah berjalan 8 tahun. Kami dari federasi dan sekolah-sekolah silat di Austria tetap berupaya agar turnamen ini berjalan setiap tahunnya. Perkembangannya memang tidak seperti Belanda atau negara-negara tetangganya, tapi kami tetap optimis,‘‘ ujar Stefan yang juga guru silat sekolah Anak Harimau Austria saat ditemui Bola.com di sela-sela perhelatan Austria Terbuka 2017 yang digelar di ASKOe Ball Centrum distrik 22 Kota Wina.

Salah satu kiat federasi untuk tetap menjaga keberlangsungan turnamen Austria Terbuka ini adalah dengan menjalin hubungan baik dengan Kedutaan RI di Austria. Untuk tahun ini, pihak Kedutaan RI memberikan dukungan dengan memberikan piala bagi para pemenang untuk kategori Tim Silat Terbaik, Pesilat Pria Terbaik, dan gelar Pesilat Wanita Terbaik.


‘‘Tahun ini ada Ambassador Cup dari Kedutaan Indonesia. Pak Dubes Djumala datang langsung membuka serta menyerahkan piala tersebut kepada para peserta,’’ ujar Stefan yang sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia untuk berlatih silat.

Stefan dan juga federasi silat Austria mempunyai misi mengembangkan bela diri Indonesia di Austria. Dengan kerja sama yang terjalin dengan pihak Kedutaan RI, Stefan yakin bela diri khas Tanah Air perlahan tapi pasti bisa semakin populer dan digemari warga Austria. ’

’Kami juga punya keinginan untuk mempromosikannya ke negara-negara tetangga seperti Hungaria dan Slowakia. Jadi nanti ke depannya bakal banyak pesilat yang mengikuti kejuaraan ini,’’ ucapnya.
Pada turnamen Austria Terbuka tahun ini, tercatat 40 pesilat dari perguruan di Austria, Prancis, dan Jerman berpastisipasi. Setengah dari kontestan tersebut berasal dari sekolah-sekolah silat di Austria. Turnamen ini mempertandingkan dua kelas, yakni kelas Tanding (full contact) dan kelas Seni (forms).

Masing-masing kelas dibagi berdasarkan lima kelompok umur dan jenis kelamin. Kelompok umur termuda terbuka bagi pesilat berusia 8-10 tahun.
Perguruan Silat Akademie keluar sebagai tim terbaik turnamen. Pesilat Terbaik Pria dimenangi Markus Arndt dari perguruan Pencak Silat Perchtoldsdorf, dan Pesilat Terbaik Wanita, disabet Isabella Dietz dari SILAT Akademie.

Duta Besar RI untuk Republik Austria, Dr. Darmansjah Djumala, menyerahkan piala Ambassador Cup kepada kelompok Silat Akademie yang keluar sebagai tim terbaik turnamen yang diominasi pesilat Austria.

Dalam sambutannya pada acara Turnamen Silat Austria Terbuka, Dubes Djumala menyampaikan Pemerintah RI menargetkan pencak silat dapat memperoleh pengakuan dunia sebagai salah satu cabang olah raga dan dipertandingkan pada Olimpiade 2024. Saat ini pencak silat berhasil masuk dalam Asian Games, dan dijadwalkan masuk Olimpiade 2020 untuk ekshibisi.



0 komentar

Kejuaraan Pencak Silat Open Tournament JKTC7 2017

JKTC adalah event kejuaraan silat junior mulai usia dini, praremaja hingga remaja yang mempertemukan tak hanya pesilat yang mewakili sekolah, tetapi juga dengan pesilat yang mewakili perguruannya. Cakupan yang cukup luas ini membuat tingkat persaingan menjadi lebih kompetitif. Kejuaraan ini pun menjadi stimulus bagi para pesilat muda yang baru memulai prestasinya di ajang kejuaraan untuk dapat mengukur kemampuannya hingga melanjutkan prestasinya ke jenjang berikut.
Event ini dapat menjadi pilihan bagi pesilat pemula untuk berlaga, baik tanding maupun seni, yang bisa menjadi sarana pembantu bagi pencak silat menelurkan atlet-atlet muda silat yang andal dan berkualitas.

Event ini dilaksanakan 2 kali setahun dan kegiatan akan dilaksanakan untuk ke-7 kalinya dengan swadaya panitia yang merupakan mantan atlet dan pelatih baik tingkat daerah maupun nasional.
Beberapa inovasi dilakukan mulai dari pendaftaran on line, penilaian dengan sistem digital hingga pertandingan yang “clear area” dengan lebih membuat posisi penonton dibuat tertib hingga lebih layak disebut tontonan yang menarik.

Selain itu JKTC merupakan pertandingan silat yang dapat meminimalkan terjadinya kecelakaan pada saat atlet bertanding karena pemilihan wasit juri yang kompeten dan berpengalaman sehingga mengurangi kekhawatiran orang tua yang menurunkan anaknya ikut berlaga.
JKTC merupakan program pemberdayaan silat melalui kejuaraan untuk generasi muda sehingga akan menumbuhkan sikap kompetitif, sportif, yang dapat mempertebal nasionalisme dan mencintai kebudayaan tanah air sendiri.

Ke depan event JKTC tak hanya bergelut di kejuaraan olahraga pencak silat tapi juga akan berkolaborasi dengan silat tradisional sehingga tidak hanya terpaku hanya pada program melestarikan budaya, tetapi juga akan mengembangkan kebudayaan yang ada. Sehingga memperkokoh pencak silat sebagai salah satu barometer pembinaan silat di tanah air.
0 komentar

H. Marzuki Nalapraya dan Pencak Silat

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada Mayjen TNI (Purn) Eddie Marzuki Nalapraya, legenda pencak silat Indonesia dan dunia, yang diserahkan Rektor UNJ Prof Dr Djaali dalam Sidang Senat Terbuka di kampus itu di Jakarta, Senin.

Rektor mengatakan, Eddie M Nalapraya yang lahir di Jakarta, 6 Juni 1931 itu merupakan Doktor Honoris Causa ke-2 di bidang Ilmu Olahraga yang pernah diberikan oleh Universitas Negeri Jakarta.  Pada kesempatan itu Eddie M Nalapraya menyampaikan pidato berjudul "Budaya Pencak Silat dalam Membangun Karakter Manusia".

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Itulah filosofi hidup yang selalu dipegang teguh oleh Mayor Jenderal TNI (Purn) Eddie Marzuki Nalapraya, Legenda Pencak Silat Indonesia dan Dunia, yang telah mengantarkannya sukses merintis karir di Angkatan Bersenjata (TNI), tanpa melalui jalur akademi militer, namun juga berbagai prestasi lainnya hingga saat ini.

Sebagai salah satu syarat menjadi tentara profesional, setelah perang kemerdekaan usai, Eddie ikut beberapa pelatihan militer baik di dalam maupun di luar negeri yang kemudian mengantarkannya meraih Pangkat Mayor Jenderal TNI Angkatan Darat.

Dalam karir militernya, Eddie M Nalapraya pernah terlibat dalam pengamanan para perwira tinggi TNI pasca tragedi Pemberontakan PKI pada September 1965. Tepatnya pada bulan November 1965, Eddie M Nalapraya yang saat itu berpangkat Kapten Infantri, ditugaskan melakukan pengamanan terhadap Jenderal Soeharto beserta seluruh Perwira Tinggi Komando Tertinggi Angkatan Darat, Laut dan Udara. Tugas pengamanan ini diemban oleh Eddie M Nalapraya hingga tahun 1967.

Pada Maret 1967, Eddie M Nalapraya kemudian diangkat menjadi Komandan Kawal Pribadi Jenderal Soeharto yang saat itu diangkat menjadi Acting President. Dari tahun 1967 sampai dengan 1972, Eddie M Nalapraya bergabung ke dalam Satgas POMAD, yang salah satu tugas utamanya adalah melakukan pengawalan dan pengamanan terhadap Presiden.

Eddie M Nalapraya merupakan sosok yang mempunyai semangat dan keinginan yang luar biasa besarnya untuk mempersatukan seluruh aliran pencak silat dalam satu wadah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Keinginan tersebut terwujud. Melalui kepemimpinannya, perkembangan pencak silat tidak hanya menguat di Indonesia namun juga mulai merambah hingga ke wilayah Asia Tenggara, Asia bahkan ke seluruh dunia.

Komitmennya yang sungguh kuat untuk memajukan pencak silat ini lah yang membuat sosok Eddie M Nalapraya terus dipercaya sebagai Ketua Umum PB IPSI hingga lebih dari 20 tahun lamanya, sebelum digantikan oleh Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto.

Eddie M Nalapraya bahkan mampu menyatukan para pesilat dari Malaysia dan Singapura untuk bahu-membahu bersama-sama memajukan dan mempopulerkan pencak silat ke seluruh dunia melalui Kejuaraan Dunia Pencak Silat pada awal 1982 dan 1984 di Jakarta, tahun 1986 di Winna Austria, tahun 1987 di Malaysia, tahun 1988 di Singapura, 1990 di Den Haag Belanda, dan tahun 1992 di Indonesia. Bahkan, untuk pertama kalinya pencak silat dipertandingkan pada Sea Games 1987. Upayanya agar pencak silat dipertandingkan di ajang Asian Games pun berbuah hasil dengan dipertandingkan pencak silat di Asian Games Indoor pada 2009 di Vietnam.

Sebagai bentuk pengakuan pemerintah atas komitmen dan semangat luar biasa serta kecintaan yang besar terhadap kemajuan dan prestasi pencak silat Indonesia, di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Eddie M Nalapraya mendapatkan anugerah Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Pratama dari Pemerintah Republik Indonesia untuk jasa dan baktinya di Pembinaan Olahraga Pencak Silat di Indonesia selama ini, pada 13 Agustus 2012.

Kini, di usianya yang hampir menginjak 86 tahun, Eddie M Nalapraya berkeinginan agar Pencak Silat menjadi olahraga wajib bagi para siswa siswi di seluruh Indonesia. Eddie M Nalapraya meyakini, bahwa Pencak Silat akan mampu membentuk manusia Indonesia menjadi manusia yang ungguldan memiliki karakter yang kuat.

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2017
0 komentar

Silat Cikalong menuju Unesco

LAZUARNEWS.COM Kabupaten Cianjur memiliki banyak tradisi seperti tradisi Kuda Kosong dan juga maenpo. yang dimana tradisi tersebut merupakan Asli milik Kabupaten Cianjur Jawa Barat.
Untuk kali ini Pekcak Silat Maenpo Cianjur bakal unjuk kabisa di depan petinggi Unesco pada Mei 2017 mendatang.

Sayangnnya, ketika mendapatkan perhatian dari internasional, maenpo Cianjur dinilai masih belum mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Cianjur sendiri.
Aziz Asy’ari, selaku Pelestari maenpo aliran Cikalong, menuturkan, tampilnya maenpo di Unseco merupakan usulan dari Pemprov Jabar untuk menjadikan pencak silat sebagai warisan dunia.



0 komentar

Berkunjung ke Desa Jampang Si Jawara Silat

Kidnesia.com - Ingatkah kamu tentang kisah Si Jampang? Si Jampang adalah seorang jawara silat yang ikut melawan Belanda. Nah, di Bogor, ada sebuah desa bernama Desa Jampang, lo. Wah, tempat apa ya, itu?

Desa Silat
Desa Jampang terletak di Jl. Raya Parung, Kemang, Kabupaten Bogor. Desa ini juga sering dikenal sebagai Kampung Silat. Itu karena, desa ini memang sedang dikembangkan menjadi desa wisata silat.
Silat sendiri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Desa Jampang. Apalagi, ilmu bela diri silat juga merupakan bagian dari sejarah Desa Jampang. Tak heran jika silat masih lestari di desa ini. Bahkan, silat juga menjadi salah satu kegiatan ekstrakulikuler di semua sekolah di Desa Jampang, lo!

Legenda Si Jampang
Ssst, tahukah kamu bahwa nama Desa Jampang ternyata tidak lepas dari kisah Si Jampang, jawara silat ? Nah, pada jaman dahulu, Jampang adalah sebutan bagi seluruh wilayah yang berada di Sukabumi, sampai Parung, Bogor. Dulunya, daerah Jampang ini merupakan daerah kekuasaan Si Jampang. Namun sekarang, daerah itu sudah terbagi-bagi ke dalam berbagai wilayah dan otonomi. Meski begitu, desa ini tetap bernama Desa Jampang.



Karena memiliki hubungan yang erat dengan sang jawara, desa ini jadi mewarisi budaya silat Jampang. Bahkan, di sini juga mempelajari Jurus Jampang, lo. Ada pula sumur yang dipercaya sebagai sumur Si Jampang.

Kampungnya Para Jawara
Sebagai informasi, Kampung Silat ini dirintis sejak tahun 2009 dan sedang dikembangkan menjadi tempat wisata budaya dan olahraga. Nah, desa ini juga dikenal sebagai desa yang suka silat atau desanya para pesilat. Tidak heran, karena di desa ini terdapat 5 perguruan silat, dengan sekitar 1.000 pesilat aktif. Bahkan, tahun 2013 nanti, ditargetkan ada 15 perguruan silat di sini. Waaah!
Nah, karena sedang dikembangkan menjadi desa wisata, desa ini juga memiliki program istimewa bagi para wisatawan, lo. Di sini, wisatawan bisa menonton silat, belajar silat, fotografi dan koreografi silat. O iya, pada tanggal 4 November lalu, desa ini juga menggelar Festival Kampoeng Jampang yang ramai dan meriah.

Wah..wah..wah..hebat, ya? Nah, bagi kamu yang ingin belajar silat, jangan lupa datang ke Desa Jampang , ya!

Teks: Chatarina Komala, Foto: Detik.com, blogspot.com
0 komentar

Pencak Malioboro Festival ke III

Ajang acara akbar pencak di tanah jawa khususnya di DI Jogkarta berjalan dengan meriah, acara ini di selenggarakan oleh Tantungan dan beberapa komunitas lainnya. Lebih dari 5000 pesilat berkumpul di sebuah lokasi adalah sebuah kejadian luar biasa. Sebuah angka yang fantastis dari sebuah konsistensi sebuah kegiatan yang telah sukses dilaksanakan untuk ke-3 kalinya.

silatbogor hadir bukan atas nama undangan resmi sehingga banyak kegiatan yang silatbogor tidak bisa ikuti bersama, namun dapat hadir disana sudah sangat membuat silatbogor senang, pasalnya kegiatan ini sangat luar biasa ...sangat cair sehingga masyarakat awampun dapat menikmati kegiatan ini.

Harapannya silatbogor bisa ikut serta dalam andil kegiatan ini, semoga ya...

kegiatan detailnya bisa dilihat disini ya brooo..
(yanweka)

https://tangtungan.com/laporan-pandangan-mata-pencak-malioboro-festival-ke-3-2014/

1 komentar

Dukungan Penuh Sultan Hamengku Buwono X terhadap Pencak Malioboro Festival III (Yogyakarta, 30 Mei – 1 Juni 2014)

Pencak Silat adalah Aktifitas Fisik dan Rohani , menjadi Produk bangsa sendiri , menjadi produk merupakan kearifan lokal . Kita mestinya wajib untuk menjaga dan mengembangkan sehingga kehadiran Pencak Silat untuk bangsanya sendiri di tanah air menjadi sesuatu yang sangat Strategis . Untuk itu selama aktifitas aktifitas warga dari perguruan perguruan yang menamakan komunitas pencak silat di jogja itu , menekankan festival setiap tahun , bagi saya itu adalah ide-ide yang cemerlang didalam upaya tidak hanya mengenalkan tapi tetap menjaga pelestarian dan harapan saya jg utk pengembangan . Sehingga bentuk dukungan saya adalah nanti tahun ke Lima harapan saya ada JAMBORE PENCAK SILAT NUSANTARA DI JOGJAKARTA !Sri Sultan Hamengku Buwono X- 25 maret 2014



Sambut Positif Kegiatan Pencak Malioboro Festival (PMF), Sri Sultan Hamengku Buwono X (yang juga menjabat sebagai Gubernur DI Yogyakarta) mengusulkan agar dua tahun kedepan dapat diselenggarakan  Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta.  Kunjungan Panitia PMF III menghadap dan mohon doa restu Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan hari Selasa (25/3) kemarin,  mendapat respon yang menggembirakan.  
Dalam kesempatan ini, Ngarsa Dalem tidak hanya mengijinkan namanya dipakai untuk memberikan penghargaan bagi penampil terbaik di acara Festival Koreografi Pencak, tetapi juga memberikan dukungan moril agar dalam 2 tahun ke depan panitia PMF membuat acara puncak dengan menggelar Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta.
“Pencak silat itu adalah aktivitas menyangkut fisik dan rohani, dan merupakan produk bangsa Indonesia yang mengandung kearifan lokal. Sudah semestinya kita wajib menjaga dan mengembangkan sehingga kehadiran pencak silat di tanah air menjadi sesuatu yang strategis untuk bangsa Indonesia,” terang Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima kehadiran Panitia Pencak Malioboro Festival III di kantornya di Kepatihan hari Selasa (25/3) kemarin. Pada kesempatan itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi Kepala Dinas Kebudayaan DIY, GBPH Yudaningrat dan Pjs Kepala Dinas Pariwisata DIY. Lebih lanjut Sri Sultan HB X juga menilai apa yang telah dilakukan oleh komunitas pencak silat yang tergabung dalam Paseduluran Angkringan Silat (PAS) dan Tangtungan Project, yang telah berhasil menggelar event tahunan yang diberi nama Pencak Malioboro Festival itu sebagai ide yang cemerlang. Utamanya dalam upaya mengenalkan kembali pencak silat ke khalayak ramai, juga dalam hal pelestarian dan pengembangan.
“Sebagai bentuk dukungan saya adalah usulan  dan harapan agar nanti di tahun ke-5 ada Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta,” tandas Sri Sultan. Dalam Jambore tersebut, lanjut Sri Sultan, agar bisa dibentuk forum dialog antar sesepuh pencak silat untuk membicarakan upaya-upaya mengembangkan pencak silat itu sendiri. Dengan adanya kegiatan itu, harapannya selain bisa mempromosi-kan pencak silat secara lebih luas, misalnya masyarakat di luar pesilat bisa belajar silat langsung dari para guru silat.
Kegiatan- kegitana pencak silat yang diselenggarakan PAS dan Tangtungan  Project ini juga bisa mempromosikan pariwisata Yogyakarta. Ribuan pesilat dari berbagai penjuru Indonesia dan luar negeri akan menjadi turis di Yogyakarta, mereka bisa tinggal di hotel-hotel atau di rumah-rumah penduduk. Hal ini tentunya bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Yang menggembirakan bagi Panitia PMF III adalah ketika Sri Sultan mempersilahkan PAS dan Tangtungan Project untuk bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, karena menurut beliau kegiatan tersebut berkaitan erat kegiatan promosi budaya lokal.
“Kualifikasi silat itu tidak hanya meliputi sport, tetapi juga dengan budaya lokal. Jadi nanti harus bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Silahkan berbicara dengan Mas Yuda (Kepala Dinas Kebudayaan DIY). Kita harus back-up kegiatan ini,” ucap Sri Sultan. Menurutnya, Pemda DIY sering kita mau memback-up kegiatan budaya, tapi sering terhambat karena para pelaku budaya kesannya kurang aktif sehingga itu menyulitkan pemerintah yang sudah siap mendukung. Karenanya, kepada Panitia PMF III, Sri Sultan berharap lebih pro aktif mengenalkan kembali pencak silat utamanya kepada anak-anak dan remaja misalnya dengan mengajak anak-anak dan remaja yang menonton kegiatan PMF untuk berlatih silat ditempat itu juga.
“Jangan jadikan anak-anak, remaja, dan masyarakat hanya sebagai penonton, tetapi ajari mereka silat. Bagaimana caranya ada workshop untuk anak-anak dan remaja yang menonton agar disitu mereka bisa berlatih dan mengenal pencak silat. Nanti kalau ada yang tertarik biarkan mereka memilih perguruan yang mereka sukai. Sehingga anak-anak, remaja, dan masyarakat sekitar tidak hanya jadi penonton. Tidak usah bicara yang muluk seperti pembangunan karakter dan lain-lain, tapi bahwa disini ada guru silat siapa yang mau berlatih,” tegas Sri Sultan.
Sementara itu, koordinator PAS, Ludyarto Bimasena (Ludy) mengaku gembira dengan sambutan positif dari Gubernur DIY tersebut. Apa yang telah disampaikan Sri Sultan saat menerima kunjungan panitia PMF III menjadi dukungan moril yang sangat berarti bagi timnya untuk bisa menyelenggaran kegiatan PMF III dengan lebih baik.
“Kami sangat gembira dan berterimakasih kepada Ngarsa Dalem yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual kepada kami. Ini akan menjadi modal berharga bagi kami dalam menjalankan visi misi kami, dan tentunya kami akan berupaya agar Jambore Pencak Silat Nusantara akan terwujud,” ucap Ludy.
Ludy mengatakan pihaknya menjelaskan dihadapan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY GBPH Yudaningrat, bahwa memang sengaja baru menjelang pelaksanaan PMF III pihaknya menjalin kerjasama dengan pemerintah. Sedangkan pada pelaksanaan PMF I 2012 dan PMF II 2013 pihaknya murni melakukan swadaya untuk terlaksananya kegiatan Pencak Malioboro Festival.
“Hal itu kami ingin untuk  action dulu, selain juga bahwa karena pencak silat masih dipandang sebelah mata oleh para sponsor. Jika di PMF I dan II kami ternyata bisa berhasil menyelenggaran festival dg biaya swadaya dengan patungan bersama, maka di PMF III kami mencoba menggandeng sponsor dan beberapa diantaranya ada yang berhasil walau masih banyak yang memalingkan wajah ketika tahu ada label pencak silat. Namun di luar dugaan, setelah menghadap Ngarsa Dalem kami seperti tersadar bahwa kami, para pesilat, juga kurang mendekatkan diri ke pemerintah yang ternyata siap mendukung kegiatan-kegiatan kami,” ucap Ludy.
Pencak Malioboro Festival sudah diselenggarakan tiga tahun berturut turut dengan jumlah peserta yang terus meningkat. Jika pada PMF I  diramaikan oleh lebih dari 2500 peserta, PMF II di dukung oleh 5000 pesilat maka di PMF III  diperkirakan akan dihadiri lebih dari 6000 pesilat yang akan tampil, bersilaturahmi dan berpawai bersama. PMF III  yang sudah dicanangkan sebagai salah satu Agenda Pariwisata Budaya ini,  akan berlangsung selama 3 hari, mulai 30 Mei sampai dengan 1 Juni 2014 dengan mengambil lokasi di Kompleks eks Pasar Ngasem untuk kegiatan festival koreografi, workshop dan pameran, serta lomba foto. Kemudian sepanjang Malioboro untuk pawai serta Titik Nol Kilometer untuk acara puncak pada malam tanggal 1 Juni 2014. Program acara dalam PMF III antara lain Festival Koreografi Pencak, Workshop Pencak Silat untuk masyarakat umum dan wartawan, Lomba Foto untuk umum dan wartawan, pawai, dan malam puncak acara akan diisi demo pencak dari puluhan perguruan pencak silat dari berbagai penjuru Nusantara. Untuk keterangan dan dukungan  lebih lanjut bisa menghubungi panitia PMF III di Jl Pandega Sari no. E – 1 Rt.02, Kenthungan – Jalan Kaliurang Km.5, Yogyakarta-Indonesia

Yogyakarta, 26 Maret 2014
Kontributor Tangtungan Project - Pencak Silat Bagi Dunia

Written by Shinta Kertasari

0 komentar

Perguruan Pencak Silat Padjajaran Nasional Kota Cirebon Sukses Lahirkan Pesilat


KBRN, Cirebon : Suksesnya Tim Pencak Silat PORDA Kota Cirebon  sebagian besar 90 persen dihuni oleh para pesilat dari perguruan Padjajaran Nasional Kota Cirebon dengan mengalahkan para juara dari ajang Pekan Olahraga Kota (Porkota) KONI Kota Cirebon ke 2 tahun 2013 pada ajang seleksi PORDA merupakan sebuah bukti prestasi gemilang dan membanggakan bagi skuad Inti dari Tim Pencak Silat PORDA Kota Cirebon dan juga Padjajaran Nasional tentunya.


Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Padjajaran Nasional H Agus Muharam kepada RRI pada, Selasa (03/12/2013). Menurut H Agus ajang seleksi akhir di Cabang Olahraga Pencak silat yang mempertemukan jawara–jawara baru Porkota KONI Kota Cirebon kedua tahun 2013 dengan tim inti Pencak Silat Porda Kota Cirebon menjelang bergulirnya babak Kualifikasi Porda, akhir Desember 2013 mendatang, adalah sebuah fase pembuktian untuk menguji sejauh mana kesiapan dan ketangguhan Tim Inti Pencak Silat Porda Kota Cirebon yang banyak dihuni oleh pesilat dari perguruan Pencak Silat Padjajaran Nasional.

"Ini kan membuktikan tim mana yang layak, dan saya bangga pesilat dari perguruan saya tampil bagus dan juara," ujar Agus.
Dengan meroketnya prestasi Perguruan Pencak Silat Padjajaran Nasional Kota Cirebon tersebut, bukan berarti membuat regenerasi atau pencarian atlet menjadi santai dan lamban, justru sebaliknya menjadi satu motivasi untuk terus menjadi lebih baik, baik dalam melahirkan pesilat–pesilat tangguh maupun prestasi gemilang hingga kancah internasional. (Azi Satriya/ITY/HF)
0 komentar
 
Support Silat Indonesia Community | SilatBogor Indonesia
Copyright © 2011. SilatBogor - All Rights Reserved
Template Created by SilatBogor Published by Silat Community
Proudly powered by Blogger