Featured Post Today
print this page
Latest Post

Berkunjung ke Desa Jampang Si Jawara Silat

Kidnesia.com - Ingatkah kamu tentang kisah Si Jampang? Si Jampang adalah seorang jawara silat yang ikut melawan Belanda. Nah, di Bogor, ada sebuah desa bernama Desa Jampang, lo. Wah, tempat apa ya, itu?

Desa Silat
Desa Jampang terletak di Jl. Raya Parung, Kemang, Kabupaten Bogor. Desa ini juga sering dikenal sebagai Kampung Silat. Itu karena, desa ini memang sedang dikembangkan menjadi desa wisata silat.
Silat sendiri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Desa Jampang. Apalagi, ilmu bela diri silat juga merupakan bagian dari sejarah Desa Jampang. Tak heran jika silat masih lestari di desa ini. Bahkan, silat juga menjadi salah satu kegiatan ekstrakulikuler di semua sekolah di Desa Jampang, lo!

Legenda Si Jampang
Ssst, tahukah kamu bahwa nama Desa Jampang ternyata tidak lepas dari kisah Si Jampang, jawara silat ? Nah, pada jaman dahulu, Jampang adalah sebutan bagi seluruh wilayah yang berada di Sukabumi, sampai Parung, Bogor. Dulunya, daerah Jampang ini merupakan daerah kekuasaan Si Jampang. Namun sekarang, daerah itu sudah terbagi-bagi ke dalam berbagai wilayah dan otonomi. Meski begitu, desa ini tetap bernama Desa Jampang.

BLOGSPOTDOTCOM

Karena memiliki hubungan yang erat dengan sang jawara, desa ini jadi mewarisi budaya silat Jampang. Bahkan, di sini juga mempelajari Jurus Jampang, lo. Ada pula sumur yang dipercaya sebagai sumur Si Jampang.

Kampungnya Para Jawara
Sebagai informasi, Kampung Silat ini dirintis sejak tahun 2009 dan sedang dikembangkan menjadi tempat wisata budaya dan olahraga. Nah, desa ini juga dikenal sebagai desa yang suka silat atau desanya para pesilat. Tidak heran, karena di desa ini terdapat 5 perguruan silat, dengan sekitar 1.000 pesilat aktif. Bahkan, tahun 2013 nanti, ditargetkan ada 15 perguruan silat di sini. Waaah!
Nah, karena sedang dikembangkan menjadi desa wisata, desa ini juga memiliki program istimewa bagi para wisatawan, lo. Di sini, wisatawan bisa menonton silat, belajar silat, fotografi dan koreografi silat. O iya, pada tanggal 4 November lalu, desa ini juga menggelar Festival Kampoeng Jampang yang ramai dan meriah.

Wah..wah..wah..hebat, ya? Nah, bagi kamu yang ingin belajar silat, jangan lupa datang ke Desa Jampang , ya!

Teks: Chatarina Komala, Foto: Detik.com, blogspot.com
0 komentar

Pencak Malioboro Festival ke III

Ajang acara akbar pencak di tanah jawa khususnya di DI Jogkarta berjalan dengan meriah, acara ini di selenggarakan oleh Tantungan dan beberapa komunitas lainnya. Lebih dari 5000 pesilat berkumpul di sebuah lokasi adalah sebuah kejadian luar biasa. Sebuah angka yang fantastis dari sebuah konsistensi sebuah kegiatan yang telah sukses dilaksanakan untuk ke-3 kalinya.

silatbogor hadir bukan atas nama undangan resmi sehingga banyak kegiatan yang silatbogor tidak bisa ikuti bersama, namun dapat hadir disana sudah sangat membuat silatbogor senang, pasalnya kegiatan ini sangat luar biasa ...sangat cair sehingga masyarakat awampun dapat menikmati kegiatan ini.

Harapannya silatbogor bisa ikut serta dalam andil kegiatan ini, semoga ya...

kegiatan detailnya bisa dilihat disini ya brooo..
(yanweka)

https://tangtungan.com/laporan-pandangan-mata-pencak-malioboro-festival-ke-3-2014/

1 komentar

Dukungan Penuh Sultan Hamengku Buwono X terhadap Pencak Malioboro Festival III (Yogyakarta, 30 Mei – 1 Juni 2014)

Pencak Silat adalah Aktifitas Fisik dan Rohani , menjadi Produk bangsa sendiri , menjadi produk merupakan kearifan lokal . Kita mestinya wajib untuk menjaga dan mengembangkan sehingga kehadiran Pencak Silat untuk bangsanya sendiri di tanah air menjadi sesuatu yang sangat Strategis . Untuk itu selama aktifitas aktifitas warga dari perguruan perguruan yang menamakan komunitas pencak silat di jogja itu , menekankan festival setiap tahun , bagi saya itu adalah ide-ide yang cemerlang didalam upaya tidak hanya mengenalkan tapi tetap menjaga pelestarian dan harapan saya jg utk pengembangan . Sehingga bentuk dukungan saya adalah nanti tahun ke Lima harapan saya ada JAMBORE PENCAK SILAT NUSANTARA DI JOGJAKARTA !Sri Sultan Hamengku Buwono X- 25 maret 2014



Sambut Positif Kegiatan Pencak Malioboro Festival (PMF), Sri Sultan Hamengku Buwono X (yang juga menjabat sebagai Gubernur DI Yogyakarta) mengusulkan agar dua tahun kedepan dapat diselenggarakan  Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta.  Kunjungan Panitia PMF III menghadap dan mohon doa restu Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan hari Selasa (25/3) kemarin,  mendapat respon yang menggembirakan.  
Dalam kesempatan ini, Ngarsa Dalem tidak hanya mengijinkan namanya dipakai untuk memberikan penghargaan bagi penampil terbaik di acara Festival Koreografi Pencak, tetapi juga memberikan dukungan moril agar dalam 2 tahun ke depan panitia PMF membuat acara puncak dengan menggelar Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta.
“Pencak silat itu adalah aktivitas menyangkut fisik dan rohani, dan merupakan produk bangsa Indonesia yang mengandung kearifan lokal. Sudah semestinya kita wajib menjaga dan mengembangkan sehingga kehadiran pencak silat di tanah air menjadi sesuatu yang strategis untuk bangsa Indonesia,” terang Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima kehadiran Panitia Pencak Malioboro Festival III di kantornya di Kepatihan hari Selasa (25/3) kemarin. Pada kesempatan itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi Kepala Dinas Kebudayaan DIY, GBPH Yudaningrat dan Pjs Kepala Dinas Pariwisata DIY. Lebih lanjut Sri Sultan HB X juga menilai apa yang telah dilakukan oleh komunitas pencak silat yang tergabung dalam Paseduluran Angkringan Silat (PAS) dan Tangtungan Project, yang telah berhasil menggelar event tahunan yang diberi nama Pencak Malioboro Festival itu sebagai ide yang cemerlang. Utamanya dalam upaya mengenalkan kembali pencak silat ke khalayak ramai, juga dalam hal pelestarian dan pengembangan.
“Sebagai bentuk dukungan saya adalah usulan  dan harapan agar nanti di tahun ke-5 ada Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta,” tandas Sri Sultan. Dalam Jambore tersebut, lanjut Sri Sultan, agar bisa dibentuk forum dialog antar sesepuh pencak silat untuk membicarakan upaya-upaya mengembangkan pencak silat itu sendiri. Dengan adanya kegiatan itu, harapannya selain bisa mempromosi-kan pencak silat secara lebih luas, misalnya masyarakat di luar pesilat bisa belajar silat langsung dari para guru silat.
Kegiatan- kegitana pencak silat yang diselenggarakan PAS dan Tangtungan  Project ini juga bisa mempromosikan pariwisata Yogyakarta. Ribuan pesilat dari berbagai penjuru Indonesia dan luar negeri akan menjadi turis di Yogyakarta, mereka bisa tinggal di hotel-hotel atau di rumah-rumah penduduk. Hal ini tentunya bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Yang menggembirakan bagi Panitia PMF III adalah ketika Sri Sultan mempersilahkan PAS dan Tangtungan Project untuk bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, karena menurut beliau kegiatan tersebut berkaitan erat kegiatan promosi budaya lokal.
“Kualifikasi silat itu tidak hanya meliputi sport, tetapi juga dengan budaya lokal. Jadi nanti harus bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Silahkan berbicara dengan Mas Yuda (Kepala Dinas Kebudayaan DIY). Kita harus back-up kegiatan ini,” ucap Sri Sultan. Menurutnya, Pemda DIY sering kita mau memback-up kegiatan budaya, tapi sering terhambat karena para pelaku budaya kesannya kurang aktif sehingga itu menyulitkan pemerintah yang sudah siap mendukung. Karenanya, kepada Panitia PMF III, Sri Sultan berharap lebih pro aktif mengenalkan kembali pencak silat utamanya kepada anak-anak dan remaja misalnya dengan mengajak anak-anak dan remaja yang menonton kegiatan PMF untuk berlatih silat ditempat itu juga.
“Jangan jadikan anak-anak, remaja, dan masyarakat hanya sebagai penonton, tetapi ajari mereka silat. Bagaimana caranya ada workshop untuk anak-anak dan remaja yang menonton agar disitu mereka bisa berlatih dan mengenal pencak silat. Nanti kalau ada yang tertarik biarkan mereka memilih perguruan yang mereka sukai. Sehingga anak-anak, remaja, dan masyarakat sekitar tidak hanya jadi penonton. Tidak usah bicara yang muluk seperti pembangunan karakter dan lain-lain, tapi bahwa disini ada guru silat siapa yang mau berlatih,” tegas Sri Sultan.
Sementara itu, koordinator PAS, Ludyarto Bimasena (Ludy) mengaku gembira dengan sambutan positif dari Gubernur DIY tersebut. Apa yang telah disampaikan Sri Sultan saat menerima kunjungan panitia PMF III menjadi dukungan moril yang sangat berarti bagi timnya untuk bisa menyelenggaran kegiatan PMF III dengan lebih baik.
“Kami sangat gembira dan berterimakasih kepada Ngarsa Dalem yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual kepada kami. Ini akan menjadi modal berharga bagi kami dalam menjalankan visi misi kami, dan tentunya kami akan berupaya agar Jambore Pencak Silat Nusantara akan terwujud,” ucap Ludy.
Ludy mengatakan pihaknya menjelaskan dihadapan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY GBPH Yudaningrat, bahwa memang sengaja baru menjelang pelaksanaan PMF III pihaknya menjalin kerjasama dengan pemerintah. Sedangkan pada pelaksanaan PMF I 2012 dan PMF II 2013 pihaknya murni melakukan swadaya untuk terlaksananya kegiatan Pencak Malioboro Festival.
“Hal itu kami ingin untuk  action dulu, selain juga bahwa karena pencak silat masih dipandang sebelah mata oleh para sponsor. Jika di PMF I dan II kami ternyata bisa berhasil menyelenggaran festival dg biaya swadaya dengan patungan bersama, maka di PMF III kami mencoba menggandeng sponsor dan beberapa diantaranya ada yang berhasil walau masih banyak yang memalingkan wajah ketika tahu ada label pencak silat. Namun di luar dugaan, setelah menghadap Ngarsa Dalem kami seperti tersadar bahwa kami, para pesilat, juga kurang mendekatkan diri ke pemerintah yang ternyata siap mendukung kegiatan-kegiatan kami,” ucap Ludy.
Pencak Malioboro Festival sudah diselenggarakan tiga tahun berturut turut dengan jumlah peserta yang terus meningkat. Jika pada PMF I  diramaikan oleh lebih dari 2500 peserta, PMF II di dukung oleh 5000 pesilat maka di PMF III  diperkirakan akan dihadiri lebih dari 6000 pesilat yang akan tampil, bersilaturahmi dan berpawai bersama. PMF III  yang sudah dicanangkan sebagai salah satu Agenda Pariwisata Budaya ini,  akan berlangsung selama 3 hari, mulai 30 Mei sampai dengan 1 Juni 2014 dengan mengambil lokasi di Kompleks eks Pasar Ngasem untuk kegiatan festival koreografi, workshop dan pameran, serta lomba foto. Kemudian sepanjang Malioboro untuk pawai serta Titik Nol Kilometer untuk acara puncak pada malam tanggal 1 Juni 2014. Program acara dalam PMF III antara lain Festival Koreografi Pencak, Workshop Pencak Silat untuk masyarakat umum dan wartawan, Lomba Foto untuk umum dan wartawan, pawai, dan malam puncak acara akan diisi demo pencak dari puluhan perguruan pencak silat dari berbagai penjuru Nusantara. Untuk keterangan dan dukungan  lebih lanjut bisa menghubungi panitia PMF III di Jl Pandega Sari no. E – 1 Rt.02, Kenthungan – Jalan Kaliurang Km.5, Yogyakarta-Indonesia

Yogyakarta, 26 Maret 2014
Kontributor Tangtungan Project - Pencak Silat Bagi Dunia

Written by Shinta Kertasari

0 komentar

Perguruan Pencak Silat Padjajaran Nasional Kota Cirebon Sukses Lahirkan Pesilat


KBRN, Cirebon : Suksesnya Tim Pencak Silat PORDA Kota Cirebon  sebagian besar 90 persen dihuni oleh para pesilat dari perguruan Padjajaran Nasional Kota Cirebon dengan mengalahkan para juara dari ajang Pekan Olahraga Kota (Porkota) KONI Kota Cirebon ke 2 tahun 2013 pada ajang seleksi PORDA merupakan sebuah bukti prestasi gemilang dan membanggakan bagi skuad Inti dari Tim Pencak Silat PORDA Kota Cirebon dan juga Padjajaran Nasional tentunya.


Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Padjajaran Nasional H Agus Muharam kepada RRI pada, Selasa (03/12/2013). Menurut H Agus ajang seleksi akhir di Cabang Olahraga Pencak silat yang mempertemukan jawara–jawara baru Porkota KONI Kota Cirebon kedua tahun 2013 dengan tim inti Pencak Silat Porda Kota Cirebon menjelang bergulirnya babak Kualifikasi Porda, akhir Desember 2013 mendatang, adalah sebuah fase pembuktian untuk menguji sejauh mana kesiapan dan ketangguhan Tim Inti Pencak Silat Porda Kota Cirebon yang banyak dihuni oleh pesilat dari perguruan Pencak Silat Padjajaran Nasional.

"Ini kan membuktikan tim mana yang layak, dan saya bangga pesilat dari perguruan saya tampil bagus dan juara," ujar Agus.
Dengan meroketnya prestasi Perguruan Pencak Silat Padjajaran Nasional Kota Cirebon tersebut, bukan berarti membuat regenerasi atau pencarian atlet menjadi santai dan lamban, justru sebaliknya menjadi satu motivasi untuk terus menjadi lebih baik, baik dalam melahirkan pesilat–pesilat tangguh maupun prestasi gemilang hingga kancah internasional. (Azi Satriya/ITY/HF)
0 komentar

Pedepokan Nasional Pencak Silat TMII Jakarta


Padepokan Pencak Silat Nasional TMII Jakarta, terletak tidak jauh dari Taman Mini Indonesia Indah yang bersebelehan dengan Majid At-TIN, masjid yang didirikan oleh Ibu Tien Suharto, Pedepokan silat pun sebenarnya adalah prakarsa Ibu Tien Suharto.

Pedepokan masih dibilang jauh dari ramai dan belum bisa menjadi pusat kegiatan silat di Indonesia, walaupun demikian kita sebagai pesilat turut bangga karena pedepokan ini sebagai Icon pencak silat Indonesia. 



Punya komentar tentang Pedepokan silat ini silahkan di share bersama....




0 komentar

Wajah Situs Silatindonesia.com tahun 2006

Inilah wajah Situs Silatindonesia.com pada tahun 2006, desain sangat sederhana seperti sesederhana isi dan misinya. dan situs ini  merupakan situs pencak silat indonesia pertama yang tidak mengatasnamakan perguruan dan aliran, krn situs ini lahir untuk komunitas silat Indonesia.

Situs ini berdiri pada tahun 2004 oleh Yanweka bersama Tim Silatbogor dengan nama silatbogor, lalu pada tahun 2005 bergabung di serverMerdeka.com dan berubah nama menjadi silatindonesia.com.

Ketika Tahun 2006 situs ini dikelola bersama komunitas silatbogor hingga akhirnya pada tahun yg sama kalau tidak salah bergabung dengan kioss.com (mas Luri Darmawan). Saat itu Yanweka, Ezra dan Luri darmawan mengadakan pertemuan di Blok A Jaksel untuk membahas Situs ini agar lebih baik lagi.






0 komentar

Pujo Ingin Kalahkan Diri Sendiri Dulu


KALAHKAN diri sendiri dulu, baru mengalahkan orang lain. Bagaimana bisa mengalahkan orang lain, jika belum mampu mengalahkan diri sendiri.

Itulah filosofi atlet pelatda pencak silat, Pujo Janoko saat ditanya tentang kiat meraih prestasi di cabang olahraga bela diri tersebut.


Tentu filosofi itu maknanya sangat dalam, terutama untuk memacu tekad meraih prestasi. Menurut pria kelahiran Cirebon, 9 September 1981 ini, usaha melawan segala halangan dan rintangan berawal dari diri sendiri. Seperti rasa malas, capek, dan takut pada kondisi alam tertentu.

"Biasanya kita sering kalah oleh keadaan hingga mengganggu program latihan. Itu semua harus dilawan. Kalau kita berhasil melawan rintangan tersebut, tentu program latihan apa pun akan terlaksana dengan baik. Pada gilirannya berpengaruh juga pada keberhasilan saat pertandingan," ungkapnya.
0 komentar
 
Support Silat Indonesia Community | SilatBogor Indonesia
Copyright © 2011. SilatBogor - All Rights Reserved
Template Created by SilatBogor Published by Silat Community
Proudly powered by Blogger